Kau Seperti Secangkir Kopi

Americano Coffee. https://favim.com/image/84997/
00.54. angka yang tertera di layar smartphoneku. Rupanya malam semakin larut dan menua. Tetapi kantuk tak kunjung membujukku untuk memejamkan mata yang cukup lelah ini. Mungkin karena efek Americano coffee. Kopi hitam pekat yang aku minum di kafe tadi sore untuk menemani suasana senjaku. Tadinya aku ingin memesan Espresso, tapi pelayan di kafe itu bilang kalau mesin untuk espresso sedang rusak. Sebenarnya aku agak sedikit kecewa karena aku datang ke kafe itu untuk mendapatkan aroma yang kuat dari secangkir espresso. Akhirnya aku memilih americano coffee untuk menggantikan espresso, toh aku pikir keduanya memiliki karakter yang hampir sama, walaupun tampilan dan aromanya agak sedikit berbeda.
Aku tidak tahu pasti apa sebenarnya yang membuatku sangat menggilai kopi. Beberapa temanku menyebut aku sebagai coffee addict. Bahkan ada yang menyebutku perempuan liar karena katanya perempuan yang menyukai kopi memilik fantasi yang berbeda dari perempuan lain. Entahlah. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi semua celotehan mereka tentang kegemaranku yang satu ini.
Ada satu hal yang mereka tidak tahu tentang kebiasaanku meminum kopi hitam. Bagiku menikmati secangkir kopi hitam adalah sesuatu yang penting. Sakral. Dan harus dinikmati dengan perasaan penuh.
Mungkin kaulah penyebabnya. Saat aku tak cukup mampu mendefinisikan siapa dirimu, aku hanya bisa meminum secangkir kopi. Bagiku kopi itu seperti dirimu. Karakternya yang kuat dapat menggambarkan sosokmu dengan gamblang.
Barangkali hampir semua orang tahu kalau kopi memiliki zat ajaib yang membuat orang  insomnia. Mendebarkan jantung. Mengacaukan lambung, terutama untuk penderita maag sepertiku. Rasanya juga pahit. Itulah mengapa banyak wanita yang tidak menyukainya, mungkin rasa pahitnya terlalu memberi kesan maskulin untuk mereka. Tetapi sekali kau menyukainya, dia akan menjadi candu.
Bukankah semua ini terdengar seperti dirimu? Saat aku memikirkanmu, aku kehilangan kantukku. Lenyap sama sekali. Meski aku paksakan, meski aku mencoba menghalau semua hal tentang dirimu. Masih tetap saja aku terjaga. Malah jantungku terkadang berdebar tak karuan jika mengingat betapa manisnya lengkungan bibirmu saat kau tersenyum.
Aku tahu kau tidak menyukai kopi sepertiku. Itulah mengapa kau sering melarangku untuk meninum kopi.
“Jangan minum kopi lho. Nanti maagmu kambuh!” Ucapmu dengan serius, lantas aku hanya tersenyum nakal mencoba sedikit menggodamu.
Dan benar, setelah itu lambungku selalu terkena maag yang cukup menganggu. Tapi itu tak masalah. Karena itu lagi-lagi terdengar seperti dirimu. Meski sering kali kau mengaduk-ngaduk otakku, membuat pikiranku terasa mual, aku masih saja mau memikirkanmu.
Lalu, masih tak sadarkah kau bahwa pahitnya secangkir kopi sama denganmu? Pahit saat menerima kenyataan bahwa terkadang yang kau ceritakan bukanlah aku. Pahit jika ternyata fokusmu bukanlah aku. Dan… belum lagi pahit yang aku ciptakan sendiri, yang belum tentu itu semua benar.
Tapi semua itu benar-benar tak masalah untukku. Bukankah dibalik pahitnya secangkir kopi ada sedikit manis yang menyertainya? Manis saat aku tahu ternyata kau juga memperdulikanku. Bagiku itu sudah cukup.
Dan kau, memang seperti secangkir kopi...

Pertama kali ditulis Dec 29, 2013

Komentar

Postingan Populer