SEPENGGAL CERITA BARU PANTAI CARITA
![]() |
| Suasana tenang Pantai Carita kini (Dok. Pribadi) |
Saya
dan seorang teman saya tidak langsung mengamini ajakan itu. Kami tahu betul
bagaimana tabiat orang-orang wisata di negeri ini. Tukang angkot, tukang ojek,
sampai pedagang-pedagang asongan sering sekali berbohong demi beberapa lembar
uang recehan. Tetapi jaman sudah berubah, teknologi berkembang pesat sekarang
ini. Saya dan teman saya berjalan anggun, bersikap tenang menghadapi kepungan
para tukang ojek. Saya buka Google Map untuk mengukur jarak antara terminal Tarogong-Labuan dengan Kondominium Lipo-Carita, hanya 11 km.
“Sabaraha ka Lipo Carita, Mang?” Tanya
saya dalam bahasa Sunda yang aksen-nya sengaja saya mirip-miripkan menyerupai
akses Sunda Banten. Bukan tanpa sebab, tapi berlagak bak orang kota hanya akan
membuka kesempatan untuk dieksploitasi,
eksploitasi kecil-kecilan ala orang wisata. Mereka biasanya tidak berani
berbohong pada sesama suku. Tapi dasar memang kami tetap terlihat berbeda,
alias ketahuan bukan orang situ, si mamang
ojek mematok harga 60 ribuan. Padahal menurut teman saya yang asli orang situ,
tarifnya hanya sekitar 20-30 ribu saja.
![]() |
| Hotel yang sepi pengunjung pasca tsunami. (dok. pribadi) |
Kami mengucapkan terima kasih sebelum berlalu
meninggalkan mereka dan segera meloncat masuk ke dalam angkot begitu angkot
hitam melintas. Di pertigaan pasar Labuan, sekitar 2 km dari terminal Tarogong,
kami bersambung angkot biru hijau. Sampailah kami di Kondominium Lipo. Tapi sial! Kondominium Lipo yang kami tuju di selatan, sementara tukang angkot menurunkan kami di
utara. Akhirnya kami berjalan sekitar 1 kilo meter menyusuri tepian pantai
menuju selatan. Semua kesialan itu sebenarnya tidak akan terjadi kalau saja
saya dan seorang teman saya tidak ketinggalan rombongan kampus.
Saya
ingin bersungut-sungut tapi urung saat ingat bahwa saya sendirilah yang tidak
disiplin. Sudah saatnya memang budaya jam karet ala negeri +62 ini harus mulai
dipunahkan. Alhasil saya hanya pasrah dan menikmati saja setiap kemalangan saya
di perjalanan. Ngetem satu jam, macet, panas pengap asap rokok di bis tanpa AC,
iring-iringan pedagang asongan dan pengamen hanya bisa dilalui dengan cara itu.
Jika tidak, siap-siap nelangsa sepanjang perjalanan!
Tujuan
kami bukan untuk berlibur sebenarnya, melainkan untuk melakukan kegiatan
kampus. Sebut saja ‘penelitian mini’ mata kuliah sosiolinguistik. Kami dibagi
kedalam beberapa kelompok dengan tema bebas. Untuk kelompok kami sendiri
mengambil tema variasi bahasa pada dialek bahasa Sunda Banten. Kami menemukan
beberapa keunikan di sana. Terdapat beberapa bahasa yang digunakan di daerah
pesisir Banten, diantaranya bahasa Jawa Serang dan bahasa Sunda Dialek Banten. Sementara
kami mengkhususkan penelitian pada bahasa Sunda Banten saja.
Jika
penutur bahasa Sunda Priangan cenderung menggunakan bahasa halus dan memperhatikan
undak-unduk basa, di Banten orang
berbahasa sunda kasar dan tidak selalu memperhatikan undak-unduk basa. Seperti halnya seorang anak yang berbicara pada
orang tuanya dengan bahasa yang sama saat ia berbicara pada temannya. Atau beberapa
kosa kata (paling) kasar seperti nyatu/negig
untuk makan, hé’és untuk tidur dan yang paling
menyentak adalah istilah ngewékeun untuk menikahkan. Ah sudahlah
tak perlu ada yang disensor, semua itu hanya fenomena bahasa yang memang
terjadi di budaya kita, meskipun bahasa-bahasa semacam itu memang digunakan di
kalangan bawah dan berpendidikan rendah. Tetap saja, itu adalah bagian dari
keragaman budaya, tak perlu dihakimi.
![]() |
| Para pedagang mengeluhkan omset yang menurun drastis pasca tsunami. (dok. pribadi) |
Kami
asyik mengobrol bersama dua orang tukang urut dan dua orang penjual emping
keliling, terhanyut membicarakan rutinitas mereka sehari-hari. Asal dari mana,
tinggal dimana, dan bagaimana aktivitas jual beli yang biasa mereka lakukan.
Semata-mata kami lakukan untuk mengeksplorasi bahasa mereka, tetapi kemudian saya
jadi salah fokus saat mereka mulai mengeluhkan nasib mereka. Tentang jualan
mereka yang tak lagi menjanjikan setelah gelombang tsunami menghantam desember
tahun lalu. Kawasan pantai menjadi sepi pengunjung. Hanya satu dua turis yang
masih mau singgah. Nampaknya, para turis masih trauma kendati pun bencana
tersebut telah berselang setengah tahun.
Dari
dua bakul emping dan pisang yang dijarakkan seharian, hanya satu dua kantong
keresek saja yang terjual, itupun saya yakin pembelinya hanya kasihan. Tukang
pijat pun hanya memijat satu dua punggung di hari-hari biasa. Selebihnya, mereka
hanya menghabiskan waktu dengan harapan kosong sampai senja menjelang.
Kabarnya
pula, bukan hanya pedagang-pedagang kecil yang nelangsa. Pebisnis pariwisata
besar pun mengalami kemalangan yang sama. Hampir semua hotel sepi pengunjung.
Padahal pemerintah setempat sudah menjamin keamanan. Penjagaan ditingkatkan,
alarm dipasang, dan CCTV memantau dari banyak arah. Tarif sewa hotel diobral, didiskon
sampai 70%. Jumlah pegawai hotel dikurangi setengahnya. Yang setengahnya bahkan
di off-kan per dua minggu sekali
secara bergantian. Restoran-restoran pun sama saja, banyak yang gulung tikar.
Pantai
Carita kini benar-benar sepi. Tak banyak orang, tak terlihat sampah berserakan,
hanya ada pemandangan gradasi biru hijau yang tenang sejauh mata memandang.
Semua itu bisa saya nikmati dengan sebutir air kelapa dan bisikan lembut angin
laut. Ah rasanya seperti sedang berlibur
di pantai pribadi. Padahal dulu pantai Carita adalah destinasi liburan
keluarga paling diminati, terutama oleh warga ibu kota yang sering berlagak paling kota itu. Suasana pantai pasti selalu
penuh sesak, dengan manusia dan dengan sisa sampahnya. Pasirnya agak busik. Airnya pun sering terlihat keruh.
Gelombang tsunami nampaknya tidak hanya menyapu
harapan para pencari nafkah, namun juga seolah menjadi isyarat untuk menyapu
segala kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Meskipun saya senang dengan wajah baru Carita sekarang, tapi di satu sisi,
saya merasa tak tega dengan kehidupan ekonomi yang kini pincang. Kehidupan yang
mulai redup karena hilangnya harapan. Maka, datanglah ke Carita, bawalah
harapan mereka yang sempat tersapu badai duka. Tapi ingat, jangan merusak
apapun agar alam tak kembali mengamuk…



sedih sejak awal kalimat :(
BalasHapusWadaw... kenapa? 😂
HapusBacanya berasa lagi bener2 ada disana
BalasHapusDeskripsinya pas dan ngena banget.