Jangan Kebanyakan Milih!
Jangan kebanyakan milih, entar kepilih! kata-kata ajaib semacam ini sering kali
dilontarkan kepada seorang yang sudah dewasa namun belum memiliki pasangan
seperti saya. Kata-kata yang terlontar ringan dari mulut orang lain, namun
terasa menohok di hati ini, mulai sering mendarat di telinga saya. Seolah
satu-satunya penyebab kenapa seseorang belum menikah adalah hanya karena faktor
kriteria. Alias Banyak maunya! Yah, demikianlah asumsi kebanyakan orang.
Saya hanya bisa diam menanggapi
kata-kata semacam ini atau berusaha untuk tersenyum jika suasana hati sedang
baik. Kadang-kadang, saya merasa putus asa duluan untuk menanggapinya. Ingin
rasanya saya mengungkapkan bahwa anggapan mereka gak selalu benar.
Ngomongin masalah nikah itu gak gampang, men! Itu topik yang cukup berat untuk dibahas. Sebab, buat saya
pribadi, menikah itu berarti saya memutuskan untuk hidup bersama orang lain
yang memiliki latar belakang berbeda, tapi tetap memiliki visi yang sama.
Menikah itu bukan hanya masalah kriteria semata. Sebab, ada banyak orang yang
sudah lama menjalin romansa, tapi tak juga sampai pada couple goal alias menikah. Itu artinya ada faktor di luar kriteria
yang ikut berperan, entah itu masalah finansial, kesiapan mental, perbedaan
keyakinan atau masih banyak lagi. Bahkan yang lebih menyedihkan, sama sekali
belum ada seseorang yang mendekat. Boro-boro mau memilih, kandidatpun belum
nampak di mana batang hidungnya. Untuk kasus seperti ini, masih mau dibilang
kebanyakan milih?
Oke baiklah, jika kita bersikeras
pengen ngomongin masalah kriteria. Mari kita omongin. Saya mau tanya, salah gak sih
kalau seseorang punya kriteria untuk calon pasangannya? Salah gak kalau kita pengen mendapatkan
sesuatu yang membuat kita yakin? Bagaimana pun kita adalah manusia biasa yang
memiliki nafsu dan ego. Adalah hal yang wajar jika kita memiliki kriteria
selama kadarnya tidak berlebihan dan rasional.
Maksud rasional itu gini. Saya
akan menganalogikan diri saya sendiri. Saya adalah perempuan biasa. Dalam
artian perempuan yang memiliki kehidupan dan rupa biasa-biasa saja tetapi
menginginkan lelaki dengan tampang rupawan bak Boy William misalnya. Dia juga harus
lelaki kaya raya dan bisa memenuhi semua yang saya inginkan. Itu namanya
keterlaluan. Tidak sadar diri. Dan sedang bermimpi.
Tetapi jika hanya sekedar
menginginkan laki-laki setia, enak diajak bicara, berpikiran terbuka,
bertanggung jawab atau sederet kualitas personal lainnya, saya rasa itu tidak
masalah.
Menikah adalah suatu keputusan
besar yang akan mengubah kehidupan kita secara signifikan. Dari yang tadinya
sendiri menjadi berdua. Menjalani hari, berjuang dan memutuskan banyak hal
berdua. Termasuk kelak akan mendidik anak bersama-sama. Dia adalah orang yang
akan selalu bersama kita sampai mati nanti. Itu sebabnya kita perlu berhati-hati
dalam memilih siapa pendamping kita. Sehingga kita merasa perlu menemukan kecocokkan
yang membuat kita MAU menghabiskan sisa hidup kita bersama pasangan kita kelak.
Jadi, nggk usahlah kita terlalu sibuk menilai kehidupan orang lain hanya
dari kaca mata kita sendiri. Berhentilah membicarakan hal-hal sensitif semacam
ini kepada orang yang masih sendiri. Dari pada kita hanya sibuk mengkritik,
lebih baik kita memberikan dukungan moril yang membesarkan hati. Kita bisa
menganggap hal ini hanya sebagai basa basi sambil lalu, tapi apakah begitu
untuk orang lain? Think again, Men!

Komentar
Posting Komentar